Pengetahuan Dasar Tentang Nama Domain, Blogger Harus Paham

pengetahuan dasar nama domain



Sebagai blogger, nama domain adalah brand kita. Kita dan tulisan kita dikenal karena nama domain tersebut. Kita boleh kehilangan data berupa artikel serta gambar-gambar pendukungnya, karena itu semua dapat kita bangun kembali dengan mudah, meskipun tentu saja kita berharap jangan sampai hal itu terjadi. Tapi kehilangan nama domain yang telah kita bangun dengan kerja keras bertahun-tahun, tentu akan sangat menyakitkan, karena kita harus membangun brand dari awal lagi.

Dan yup, saya pernah merasakannya. Sekitar tahun 2005 – 2008 saya membangun sebuah situs di ru*******is.com. Saya mempercayakan nama domain dan hostingnya pada sebuah perusahaan lokal, yang belakangan saya ketahui merupakan reseller dari registrar luar negeri. Saat itu belum ada accredited registrar di Indonesia.

Situs ini saya bangun dari scratch, semua baris kodenya saya tulis sendiri dengan PHP 4.0 (saat itu), dengan database MySQL. Long story short, situs ini lumayan rame, saya harus upgrade web hosting dua kali agar situs ini mampu menampung pengunjung yang datang. Secara finansial memang tidak menghasilkan banyak, cukuplah balik modal dari iklan afiliasi yang saya pasang.



Sayangnya di tahun ketiga, pelayanan perusahaan web hosting yang saya gunakan semakin buruk. Situs sering down, dan akhirnya benar-benar tidak dapat diakses. Saya tidak bisa login ke cpanel untuk backup data. Lebih buruk lagi, saya tidak bisa memperpanjang nama domain ini menjelang expired, karena situs perusahaan tersebut juga menghilang dari internet, dan customer service-nya tidak dapat saya hubungi sama sekali, baik melalui email maupun telepon.

Akhirnya dengan berat hati, saya terpaksa merelakan nama domain tersebut expired. Saya masih berharap bisa mendaftarkannya kembali saat dia drop. Tetapi ternyata nama domain tersebut tidak pernah drop, dan belakangan saya ketahui nama domain tersebut telah diakuisi oleh pihak ketiga dan dijual sebagai domain premium dengan bandrol harga selangit (hampir satu setengah milyar rupiah).

Dari kasus ini saya belajar banyak tentang nama domain dan bagaimana cara mengelolanya. Ini adalah pelajaran yang sangat berharga buat saya, dan saya tidak mau terperosok ke lubang yang sama dua kali.

Nah, pengalaman ini sengaja saya bagikan agar jangan sampai terjadi kasus serupa pada situs atau blog orang lain. Cukup saya saja.

Berikut beberapa tips dalam mengelola nama domain:

1. Pahami Istilah-istilah Dalam Domaining

Sebelum melangkah lebih jauh tentang pengelolaan nama domain, kita mestilah memahami beberapa istilah dasar yang sering digunakan, di antaranya:

  • Registrant, yaitu orang atau perusahaan yang mendaftar dan memiliki nama domain.
  • Registrar, adalah perusahaan yang melayani pendaftaran nama domain.
  • Reseller, adalah perusahaan yang menerima pendaftaran nama domain, tapi mereka merupakan perpanjangan tangan dari registrar.
  • Registry, adalah pengelola ekstensi tertentu nama domain, misal dot com dikelola oleh Verisign, sementara dot id dikelola oleh Pengelola Nama Domain Internet Indonesia, atau Pandi.
  • Domain Manager atau domain control panel, adalah halaman khusus yang disediakan oleh registrar untuk registran mengelola domain mereka, misalnya merubah name server, mengelola DNS, dan meng-update data pemilik domain.
  • Whois, adalah protokol atau halaman khusus untuk memeriksa data-data terkait tentang suatu domain, misalnya tanggal pendaftarannya, tanggal expired-nya, name server-nya, serta nama, email serta alamat pemilik. Untuk data yang terakhir ini bisa disembunyikan jika pemilik memanfaatkan fitur penguncian yang disediakan oleh registrar (ada registrar yang memberikan dengan gratis, ada pula yang berbayar).

2. Pastikan Nama Domain Kita Terdaftar di Perusahaan yang Terpercaya

Saat mendaftarkan nama domain, pastikan perusahaan tersebut merupakan Accredited Registrars. Saat ini di Indonesia sudah ada, beberapa di antaranya Jogjacamp, Rumahweb, PT Ardh Global Indonesia, dan PT Biznet GIO Nusantara.

Anyway, saya sendiri lebih suka menyimpan domain saya di Name, Dynadot, dan Namecheap, karena pertimbangan harga yang lebih murah. Maklum ekonomi pas-pasan, harga masih menjadi pertimbangan.

3. Pastikan Nama Domain Terdaftar Atas Nama Kita

Nama domain milik kita haruslah terdaftar atas nama kita. Kita bisa saja meminta tolong pada web developer, atau teman yang lebih ahli untuk mendaftarkan dan membangun situs kita, tapi nama domain harus menjadi milik kita, dan kita harus punya akses ke domain manager.

Hal ini untuk mengantisipasi kalau-kalau sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi di masa mendatang, misalnya web developer-nya kabur, atau teman yang kita percaya pindah dan tidak dapat dihubungi.

Dengan memiliki akses ke domain manager, kita bisa leluasa melakukan perpanjangan domain atau memindahkannya ke registrar yang lain jika diperlukan.

Selain itu kita juga akan menerima beberapa kali peringatan melalui email untuk memperpanjang domain kita, saat domain tersebut menjelang expired, hal ini penting sekali agar kita tidak lupa memperpanjang domain kita.

4. Pahami Siklus Hidup Nama Domain

Layaknya makhluk hidup, nama domain juga memiliki siklus hidup (life cycle). Setidaknya kita harus tahu kapan harus membayar biaya perpanjangan nama domain.

Beberapa waktu lalu, di grup WhatApp blogger yang saya ikuti, ada seorang member yang mengeluhkan blognya tidak dapat diakses. Setelah saya cek ternyata nama domain-nya sudah expired, bahkan sudah drop. Beruntung tidak ada pihak lain yang mengambil alih domain tersebut, jadi domain tersebut bisa didaftarkan kembali oleh pemilik lamanya.

Biasanya nama domain yang brandable akan segera didaftarkan lagi oleh para pemburu domain untuk dijual kembali. Demikian juga dengan domain yang telah memiliki trafik atau memiliki backlink yang berkualitas.

Apa yg terjadi jika nama domain kita tidak diperpanjang? Setelah melewati tanggal expired-nya, domain tersebut akan memasuki periode auto renew atau grace period yang umumnya berkisar sampai dengan 45 hari (setiap registrar memiliki kebijakan yang berbeda). Pada masa ini kita masih dapat memperpanjang nama domain tersebut tanpa biaya recovery atau restoration.

siklus hidup nama domain

Jika dalam periode tersebut tidak juga kita perpanjang maka domain akan memasuki periode redemption grace period. Pada periode ini kita masih bisa melalukan perpanjangan, tapi harus membayar biaya restoration yang lumayan mahal. Misalnya ResellerID mematok harga restorasi sebesar $101.9 atau sekitar 1,5 juta rupiah.

Nama domain akan melalui periode ini selama 30 hari. Jika sudah masuk periode ini, peluang untuk kehilangan domain akan semakin besar, karena beberapa registrar akan melakukan lelang domain-domain yang telah melewati separuh periode ini.

Jika tidak kita perpanjang juga, dan tidak ada yang nge-bid pada lelang, setelah melewati periode ini, domain akan memasuki pending delete period. Periode ini berlangsung selama 5 hari. Di masa ini tidak ada yang dapat kita lakukan selain menunggunya drop dan tersedia (available) kembali untuk didaftarkan.

Setelah melewati masa ini, domain akan dilepas dan tersedia kembali untuk didaftarkan. Tapi ingat, banyak pemburu domain di luar sana yang siap menangkap (drop catch) nama domain tersebut. Bahkan mereka telah menggunakan robot atau program komputer yang mampu mendaftarkan domain tersebut tepat saat mereka drop (dalam hitungan detik setelah drop).

Jadi seperti yang saya telah sebutkan di atas, kalau nama domain kita bagus, brandable, bertrafik, punya backlink yang berkualitas, jangan harap dapat melawan kecepatan mereka dalam proses registrasi ini.

Saya sudah sering mengincar domain-domain yang bagus, sengaja melekan alias tidak tidur (domain dot com biasanya drop pada pukul 02:00 – 03:00 WIB) untuk menangkap domain incaran. Beberapa kali berhasil, termasuk domain KopiPagi.com ini, tapi yang lebih sering (banget) sih kalah cepat sama mereka.

5. Bayar Perpanjangan Nama Domain Tepat Waktu

Always, bayar perpanjangan nama domain tepat waktu, untuk menghidari biaya restorasi dan bahkan mencegah kehilangan domain. Sebenarnya kita juga bisa membayar perpanjangan kapanpun kita mau selama domain aktif. Nah, dengan waktu yang panjang ini kita juga berkesempatan membayar dengan biaya yang lebih murah, kerana biasanya registrar mengadakan diskon pada event tertentu.

Jika nama domain tersebut kita rasa sangat penting, tidak ada salahnya juga kita memperpanjang untuk 2 – 5 tahun sekaligus.

6. Jangan Lupa Back-up

Back-up situs atau blog kita secara reguler, buat jadwal mingguan atau bulanan. Back-up ini sangat penting jika kita butuh untuk pindah hosting, untuk mengantisipasi jika terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan pada hosting yang kita pakai pada saat ini.

Jika blog dibangun dengan platform wordpress maka kita perlu back-up semua file yang ada pada folder public_html atau folder di mana blog kita install, serta database-nya. Ini bisa dilakukan melalui file manager di Cpanel hosting (jika hosting kita pakai Cpanel). Makanya penting sekali kita memiliki akses Cpanel ini.

Jika pake blogger atau blogspot, dapat dilakukan pada halaman Settings – Other – Import & back up.

Simpan hasil backup di hardisk laptop atau PC, pada folder khusus yang mudah dicari.



35 Comments
  1. 30 April 2020
  2. 30 April 2020
  3. 30 April 2020
  4. 1 Mei 2020
  5. 1 Mei 2020
  6. 1 Mei 2020
  7. 1 Mei 2020
  8. 1 Mei 2020
  9. 1 Mei 2020
  10. 1 Mei 2020
  11. 1 Mei 2020
  12. 1 Mei 2020
  13. 1 Mei 2020
  14. 2 Mei 2020
  15. 2 Mei 2020
  16. 2 Mei 2020
  17. 2 Mei 2020
  18. 2 Mei 2020
  19. 2 Mei 2020
  20. 2 Mei 2020
  21. 2 Mei 2020
  22. 2 Mei 2020
  23. 3 Mei 2020
  24. 3 Mei 2020
  25. 4 Mei 2020
  26. 4 Mei 2020
  27. 4 Mei 2020
  28. 4 Mei 2020
  29. 4 Mei 2020
  30. 4 Mei 2020
  31. 4 Mei 2020
  32. 4 Mei 2020
  33. 5 Mei 2020
  34. 16 Mei 2020
  35. 16 Mei 2020

Tinggalkan Balasan ke rudy Batalkan balasan